Wednesday, 11 November 2009

Perihal 'Cleaveage'





Mungkin sekitar 6 dari 10 perempuan bule yang aku temui di jalan berpakaian dengan memperlihatkan belahan dada. 8 dari 10 memakai celana, rok atau baju diatas lutut memperlihatkan paha. Buat Iman atau Dumas hal ini jelas berkah. Buat saya juga tidak jauh berbeda. Memasuki musim panas di Melbourne selalu membuat lelaki normal kaya Iman, Sugeng dan Dumas penuh dilema: mereka tahu itu aurat, tapi masalahnya auratnya ada di mana-mana. Ingin rasanya, kata Dumas, mengalihkan pandangan dari pemandangan indah itu, cuma masalahnya, tengok kanan ada, tengok kiri ada, jongkok lebih bahaya. Nikmati saja ;)

Apa yang bisa direnungkan dari cara kebanyak perempuan di Melbourne berpakaian? Ada homogenitas cara berpakaian yang itu jelas dibuat oleh industri. Kalau musim dingin: sepatu but dengan hak tinggi, celana ketat leging--biasanya berwarna hitam, baju ketat dan jaket. Kalau musim panas: serba simple dan terbuka, kacamata hitam, topi. Tapi bukan hanya itu: pakaian bisa mencerminkan struktur budaya.

Aku jadi ingat buku Strategi Budaya yang ditulis Van Peursen. Buku itu aku baca sekitar semester 5. Buku itu sangat berkesan karena dari buku itu aku bisa membaca gambaran umum pergerakan budaya Barat. Kata Peursen, gerak kebudayaan Barat bisa di bagi kepada 3 tahapan: fase mitis, ontologis dan fungsionil. Tiga tahapan perkembangan masyarakat ini mirip dengan apa yang ditawarkan Agus Comte, di mana dia membagi perkembangan masyarakat Barat menjadi fase Teologis, Metafisis dan Positivis. Peursen memasukan 3 variabel untuk melihat perubahannya kebudayaan dalam setiap fase itu. Tiga hal itu adalah: sex, exsplorasi dan kematian. Tiga hal itu bisa menunjukan proses perubahan budaya Barat.

Dalam setiap fase, kepribadian juga dikonstruksi, dibentuk. Kepribadian manusi pada fase mitis adalah kepribadian arkaik di mana manusia dan alam, mikro dan makro kosmos, masih menyatu. Manusia identik dengan alam. Pada masyarakat primitif, seseorang biasanya mengidentifikasi dirinya dengan binatang atau alam sekitar. Pada masa ini, subjek, manusia belum bisa melakukan objektifasi untuk memilah mana "self", sang subjek dan mana "it", alam objektif. Masyarakt Indian, umpamanya, percaya bahwaa gagak yang berkeliaran adalah arwah nenek moyang mereka. Meski sudah modern, sisa-sisa kebudayaan lama ini masih terlihat jelas. Bangsa Amerika mengidentifikasi negaranya pada elang, Indonesia pada garuda, Inggris pada singa, Prancis pada ayam jantan.

Fase kedua datang, fase ontologis, dengan ditandai oleh revolusi cartesian. Cogito ergo sum, aku berfikir maka aku ada. Subjek mengambil jarak, membuat pembedaan dari objek atau alam yang dia pikirkan atau hadapi. Ego manusia terformulasi menjadi diri yang otonom dan merdeka dari alam. Aku berbeda dari alam, terutama karena aku mempunyai pikiran. Ontologi muncul dari persepsi bahwa manusia bisa melakukan objektiasi terhadap objek dan menemukan esensi dari apa yang dipikirkannya. Fase ini menandai modernisme dan kemajuan sains. Namun, ada sisi gelap dari ego cartesian: manusia jadi rakus dan merusak alam dengan karena dia merasa berbeda lebih unggul dari alam. Dari itu munculah fase Fungsionil. Fase ini adalah fase dimana manusia dan alam berada dalam tingkatan yang sama, saling mengandaikan. Alam tidak berada dibawah manusia. Manusia berbeda dengan alam, namun manusia juga bagian darinya. Pada fase ini muncul persfektif post modernisme dimana "post" sering diartikan sebagai kritik terhadap kegagalan modernisme dalam memanusiakan manusia.

Loh, terus hubungannya dengan belahan dada dan paha apa? Begini saudara: menurut Peursen, jika dilihat 3 variabel dalam setiap fase sejarah itu, perubahan akan jelas terlihat. Pada masa mitis, dari 3 variabel yang dipakai, 2 diantaranya dirayakan dan 1 direpresi. Sex dan kematian menjadi bagian yang diakui, dirayakan, menjadi bagian inti kebudayaan. Lihat umpamanya lambang-lambang budaya kuno, pasti tidak jauh dari simbol lingga (gambaran dari penis) dan yoni (vagina). Sukarno mengabadikan budaya arkaik perayaan sex ini dalam arsitektur Monas (simbol penis, lingga) dan gedung DPR (yoni, gambaran vagina). Relief-relif yang ditemukan di gua-gua atau dari balik gurun pasir di Mesir juga sering menyimbolkan persatuan/persetubuhan antara bumi dan langit. Kematian juga sama: lihat epik kepahlawanan dari cerita Roma atau Yunani kuna. Kematian adalah bagian dari hidup dan dirayakan sebagai sesuatu yang mulia, dihormati. Eksplorasi, berbeda dengan dua hal tadi, ditabukan. Lihat, misalnya, budaya kesambet di masyarakat Indonesia. Ketika aku kecil, aku selalu diwanti-wanti untuk tidak datang atau menginjak daerah tertentu karena angker dan berpenghuni. Melanggarnya bisa kesambet, kemasukan setan atau penghuni daerah itu. Itulah sisa-sisa budaya mitis yang masih dengan jelas terlihat dihadapan kita.

Pada fase ontologis atau metafisis, sex direpresi. Eksplorasi dan kematian dirayakan, menjadi pusat dalam kebudayaan. Fase ini ditandai dengan keberanian orang-orang Eropa mengarungi lautan gelap dan hitam, melawan setan-setan untuk menemukan dunia baru, menemukan dunia tak bernama. Colubus ke Amerika, Vasco da Gama ke India dan lain-lain. Hasrat eksploratif ini juga mendorong mereka berinovasi. Belajar dari para ahli navigasi Islam, seperti Ibnu Mayid yang menuntun Vasco da Gama mencapai pantai India, mereka terus berinovasi. Peta peninggalan umat islam diperbaiki, kompas juga sama. Pada saat itu, dunia baru adalah kehidupan yang menjanjikan: ada emas di Amerika yang telah mendatangkan kekayaan bagi Spanyol, ada rempah-rempah di pulau Maluku yang membuat Portugis menjadi kaya. Munculah juga revolusi mesin uap. Dari mesin uap mereka menemukan banyak mesin lain. Tetapi, pada saat itu sex direpresi dan dimarjinalkan dari masyarakat. Etika Victorian dominan dan begitu represif mengatur tingkahlaku seksual, terutama para wanita. Pakaian wanita begitu tertutup, sex tabu untuk dibicarakan diantara kawan. Sex berubah menjadi hanya sekedar alat reproduksi. Pakaian pengantin orang bule, yang gaunnya panjang dan mengembang dibagian pinggul adalah sisa pakaian victoran--cuma sekarang diinovasi dengan dibuka bagian dada atasnya, dulu tidak.

Jaman fungsionil datang, sex kembali dirayakan. Etika victorian ditentang. Di Amerika para feminis membakar BH dan berlari telanjang dada untuk protes terhadap budaya victorian. Sex bom, begitu katanya. Majalah, tv, film mengeksploitasi tubuh dan sex menjadi industri. Paha dan dada terlihat lagi setelah dalam masa Victorian disembunyikan untuk alasan etik. Kematian, pada masa ini direpresi, dijadikan bagian pinggir kebudayaan. Sebisa mungkin orang tidak mati--tentu mungkin ini tidak berlaku di Jepang. Obat-obatan diciptakan untuk menghindarkan manusia dari kematian. Kematian menjadi sesuatu yang 'ditakuti', sama seperti sex yang ditakuti ketika masa Victorian.

Dus, wajar sekali kita melihat belahan dada dan paha, karena ini masa dimana sex dirayakan. Meski Melbourne berada di Victoria, ternyata tak ada sisa-sisa etika victorian yang tertinggal. Waallahu a'lam

Thursday, 1 October 2009

Model Sekularisme Buat Kita

Oleh: Zezen Zaenal Mutaqin
Staf Peneliti Lembaga Survei Indonesia (LSI). Aktif di Forum Muda Paramadina

Pada era 70-an, publik dikejutkan oleh kontroversi pemikiran Nurcholish Madjid yang mempromosikan model sekular dalam bernegara. Gagasan tersebut saat itu dianggap gila karena berlawanan dengan arus utama umat Islam yang sejak awal menghendaki dijadikannya  Islam sebagai dasar negara

Sekarang, sekularisme masih menjadi kontroversi. Sebagian masyarakat masih alergi dengan kata itu. Sekularisme sering dianggap sebagai sistem yang pasti menjauhi dan memusuhi agama. Karena itu, ide sekularisme hampir tidak pernah populer di kalangan mayoritas umat Islam

Pandangan mayoritas umat tersebut tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Anggapan umum itu ada benarnya karena selama ini sekularisme kerap kali diartikan “negara anti-agama” atau setidaknya “netral-agama”. Negara adalah urusan publik sementara agama adalah hal privat. 

Masyarakat, terutama umat Islam, menganggap cara pandang ini sangat janggal. Bagaimana bisa agama hanya dianggap sebagai urusan privat? Agama, terutama Islam, mengatur bukan hanya urusan pribadi, tapi juga hal-hal yang sifatnya publik. Karena itu, sekularisme dipandang sebagai kemustahilan bagi masyarakat Islam.

Dalam hal ini kita melihat ada simplifikasi dalam mengartikan sekularisme. Juga ada kesalahfahaman, bukan hanya pada masyarakat kita, tetapi juga di Barat, dalam melihat apa yang dimaksud dengan sekularisme.

Tiga Model
Merujuk pada apa yang dikemukakan Alfred Stepan (2001), kita bisa membagi sekularisme menjadi tiga model, yakni model Prancis, model Amerika dan katakanlah, model Eropa Barat dan Skandinavia.

Selama ini, kalau masyarakat membicarakan sekularisme, yang kerap dibayangkan dalam benaknya adalah sekularisme model Prancis. Model ini, kalau mau disederhanakan, adalah model di mana negara “menjauhi”, untuk tidak mengatakan membenci, agama. Model ini biasanya dikaitkan dengan sejarah kelam bangsa itu. Gereja pernah menjadi institusi yang sangat berkuasa, totaliter dan korup. Sejarah pahit ikut campurnya agama dalam urusan publik, melahirkan satu ide untuk bukan hanya memisahkan, tapi juga menjauhkan agama dari ruang publik. Gereja untuk Tuhan dan negara untuk kaisar. Memberi peran agama dalam ruang publik, hanya akan membuat hancurnya demokrasi dan berhentinya modernisme.

Inilah model yang secara ekstrim diterapkan di Turki. Menurut para penggagasnya, hanya dengan sekularisme seperti inilah Turki bisa modern, maju  dan demokratis. Dengan dalih menjaga nilai-nilai sekularisme ini, Turki menelorkan sebuah undang-undang yang justru tidak demokratis dengan memberikan kewenangan luar biasa kepada militer untuk “menjaga” agar prinsip-prinsip sekular tetap berjalan. Kudeta terhadap pemerintahan Necmettin Erbakan dari Partai Kesejahteraan yang dianggap “akan mengkhianati prinsip sekularisme Turki” pada 1997, adalah tindakan anti demokrasi dengan dalih mempertahankan demokrasi. Kasus pelarangan jilbab di kedua negara tersebut adalah contoh betapa ekstrimnya model sekularisme ini diterapkan. Kasus Turki penting diungkapkan karena sering dijadikan contoh oleh para penentang sekularisme di kalangan kita.

Sedikit mirip dengan model di atas, adalah model Amerika. Model ini, jika disederhanakan, adalah model di mana negara “netral” terhadap agama. Institusi agama dipisahkan secara administatif dari negara. Negara tidak boleh mencampuri urusan warganya dalam memeluk dan menjalankan keyakinan. Meski begitu, berbeda dengan model Prancis, simbol-simbol agama tertentu boleh diekspresikan di ruang publik. Agama juga menjadi unsur penting dalam politik Amerika. Kebijakan pemerintah sering kali diilhami oleh ajaran Protestan. Yang sangat menonjol adalah perdebatan “pro-choice” dan “pro-life” dalam masalah aborsi. Meskipun begitu, di Amerika tidak ada partai politik agama.

Sekularisme gaya Amerika dan Prancis di atas sering disebut model sekularisme klasik. Ciri utamanya ada batasan yang tegas, bahkan kaku, dalam memisahkan agama dan negara

Model ketiga adalah model Eropa Barat dan Skandinavia. Dalam model ini, negara dan agama saling “menghargai”, bahkan mendukung satu sama lain. Negara-negara seperti Denmark, Finlandia, Swedia, Inggris, Norwegia adalah negara yang memiliki gereja resmi negara. Jerman dan Austria mempunyai peraturan yang membolehkan komunitas-komunitas masyarakat untuk menjalankan pendidikan agama. Sebagian besar penduduk di bekas negara Jerman Barat bahkan membayar pajak gereja yang dipungut oleh negara.  Dari semua negara Eropa, hanya Perancis dan Spanyol saja yang dalam sejarahnya pernah menerapkan prinsip sekularisme yang “tidak ramah” terhadap agama. Itupun dalam perkembangan belakangan, kedua negara tersebut telah berubah menjadi semakin “ramah” pada agama (Alfred Stepan 2001).

Negara “ramah” agama   
Hampir semua negara Eropa sekarang mengadopsi model sekularisme yang ramah agama. Tak ada campur tangan negara dalam urusan agama warganya. Semua warga negara berhak mengekspresikan agamanya bukan hanya dalam hal yang terkait urusan privat, tetapi juga dalam ruang publik. Bahkan kelompok agama juga diberikan hak untuk mengorganisasi dirinya dalam kelompok sipil atau kelompok politik. Tak aneh kita menyaksikan banyak partai politik Kristen di Eropa.

Agar agama dan negara tetap berada dalam posisi yang saling mendukung dan menghormati serta tidak saling menguasai dan mempengaruhi, harus ada batasan peran yang jalas baik bagi negara maupun bagi agama. Dalam kaitan inilah, pemikiran Alferd Stephan (2001) menjadi sangat relevan. Dalam apa yang disebut prinsip twin tolerations—yang oleh Ihsan Ali-Fauzi dalam sebuah tulisan diartikan menjadi “menara kembar toleransi”—Stepan mengungkapkan bahwa institusi-institusi agama tidak boleh diberikan hak instimewa secara konstitusional di mana institusi tersebut dapat mencampuri dan memaksakan keputusan pemerintah. Tidak boleh ada lembaga semacam Wilayatul Faqih di Iran yang atas dasar agama memiliki hak yang sangat besar dalam menentukan kebijakan negara. Negara harus hanya berpegang pada hukum dan rasionalitas publik dalam menjalankan kebijakannya.

Masih menurut Stepan, negara memiliki kewajiban untuk memberi kebebasan dan mendukung warganya untuk mengekspresikan agamanya, bukan hanya dalam urusan privat, tetapi juga dalam ruang publik. Semuanya dengan catatan: sejauh ekspresi itu tidak melanggar kebebasan warga negara lain atau melanggar hukum dan prinsip demokrasi. Sebuah kelompok agama, atau kelompok apapun,  baru dilarang setelah pengadilan hukum yang adil dan terbuka memutuskan bahwa kelompok tersebut terbukti bersalah.

Sekularisme adalah ide yang diterjemahkan dalam realitas politik dengan gradasi yang berbeda-beda. Ide itu tidaklah monolitik. Para pendiri bangsa kita telah merumuskan apa yang sekarang menjadi dasar negara kita: Pancasila. Pancasila adalah model paling cocok di mana agama diperlakukan dengan ramah, bahkan didukung oleh negara. Meskipun begitu, secara prinsipil negara kita tetaplah negara sekular.



Wednesday, 23 September 2009

Setelah Amartya Hampir Sebulan


25 agustus 2009

Mengurus anak kecil lebih sulit ketimbang mengurus sebuah organisasi. Dia tak bisa diajak negosiasi, apalagi kompromi. Semua keinginannya harus dituruti. Masalahnya, kita harus menafsirkan apa keinginannya. Itu yang susah. Amartya jadi bos keluarga sekarang. Tak ada kompromi. Dia otoriter.

Aku masih harus meraba-raba apa keinginannya. Setiap malam, sejak dia lahir, aku dan istriku kehilangan tidur pulas. Tangisannya akan meledak setiap 2 jam.

Aku harus menerapkan ilmu hermeneutika untuk menafsirkan tangisannya. Apakah dia ingin makan? Itu selalu analisa pertama. Oke, ibunya akan dengan senang hati menyusui. Kadang setelah itu dia tidur lagi. Tapi seringnya terus menangis, mendendangkan nyanyian di malam sunyi. Penafsiran tangisan tahap kedua diterapkan: tangisannya berarti ingin ganti popok. Kita ganti popoknya. Masih nangis? Walah, mungkin kepanasan. Heater kita matikan. Biarkan kamar tanpa penghangat. Masih nangis juga? Mungkin Amartya kecapean tidur terlentang. Baik kalau begitu, kita gendong. Ke luar kamar kita gendong dia, mengikuti saran si Mbah. Masih nangis juga. Ampun kalau begitu. Biarkan saja dia menangis sampai cape. Nanti setelah itu kita kasih asi. Biasanya akan tidur.

Huh, itulah susana kamar di sudut Decarle selama 3 minggu ini. Detik demi detik dilalui dengan menegangkan. Penuh harapan sekaligus ketakutan. Setiap jam sepuluh malam aku berharap Amartya bisa tidur segera. Ibunya harus istirahat. Aku harus membuka buku atau membaca jurnal, mengerjakan tugas riset makalah 10,000 kata tentang korupsi yang sama sekali belum aku sentuh. Setiap jam sepuluh aku juga dihinggapi ketakutan. Kalau Amartya belum tidur, biasanya dia akan terjaga sampai jam 2 atau jam 3 pagi. Ia hanya tidur beberapa menit jika aku gendong. Dan itu artinya tidak ada tidur bagi kami. Juga aku tidak membaca buku atau jurnal.

Kadang malam begitu menegangkan. Seminggu lalu aku sudah hampir menelpon bagian gawat darurat rumah sakit The Royal Women. Amartya tak henti-henti menangis. Istriku sudah menyusuinya, popok baru diganti, ruangan tidak terlalu dingin juga tidak terlampau panas, namun tangisannya tak kunjung reda. Tiba-tiba istriku mengeluh pusing sakit kepala. Kaki dan persendiannya terasa pegal semua. Waduh, bahaya. Kalau istriku sakit bagaimana Amartya bisa mimi. Badan istriku menggigil. Awalnya aku kira mungkin hanya terlalu cape. Aku memindahkan Amartya ke ruang tengah, aku gendong. Aku menyuruh istriku tidur. Kalau Amartya terus nangis, aku akan memberinya susu formula. Dokter menyuruhku siap sedia susu formula, jaga-jaga takut dibutuhkan. Aku pikir saran dokter itu benar juga, malam itu rupanya aku membutuhkannya.

Dua jam berlalu panas istriku tak kunjung hilang. Aku cek suhu badannya pakai termometer: 38. Di atas normal. Badannya tambah menggigil. Sambil menggendong Amartya aku memijat-mijat kaki istriku. Selimut hangat dari wol sudah dipakai sejak dua jam lalu. Aku juga menyalakan penghangat ruangan. Tak mempan. Dia tetap kedinginan, pusing dan pegal-pegal. Aku khawatir dia kena infeksi rahim atau vagina setelah melahirkan. Tapi istriku bilang tak merasa sakit di bagian itu. Aku bingung sendiri.

Menjelang dini hari aku buka laptop. Amartya mulai kelelahan. Dia tidur di sofa depan. Aku mencari tahu apa gerangan yang terjadi pada istriku. Aku buka google. Aku ketik: menyusui, pusing, panas dingin. Enter! Ada banyak jawaban diberikan ustad google. Aku pilih satu, sembarang saja. Selalu aku pilih yang paling atas. Alasannya karena kalau disimpan pertama di list google, itu artinya paling banyak di klik orang dan di kunjungi. Dari situs itu aku menemukan jawaban: kemungkinan istriku kena infeksi ringan di payudara, mastitis. Penyebabnya karena produksi asi terlalu banyak dan tidak semua di makan Amartya. Ada sisa asi mengendap di kelenjar payudara dan menyebabkan infeksi ringan. Payudara akan mengencang san muncul plek merah. Betul, rupanya istrku kena mastitis. Aku sedikit lega, ini bukan penyakit serius. Aku hanya tinggal mengompresnya pakai air hangat agar sisa asi yang ada dalam payudara istriku mencair dan keluar.

Terimakasih google. Istriku pagi harinya sedikit baikan. Seperti hari-hari sebelumnya aku membuatkannya sarapan pagi. Setelah sarapan cornflakes dan segelas susu, pusingnya sedikit hilang. Ia juga minum Panadol sekitar pukul 3 pagi untuk mengurangi rasa sakit. Aku menyuruh istriku menyusui Amartya selama mungkin agar asi yang diproduksi tubuhnya dimakan Amartya semua. Aku baru tahu ternyata dalam minggu-minggu pertama tubuuh si ibu akan mensuplai asi sebanyak mungkin. Itulah kenapa banyak asi yang menetes keluar. Perlahan-lahan tubuh si ibu akan menyesuaikan dengan kebutuhan si Amartya. Dalam proses penyesuaian ini ada perubahan hormonal dalam tubuh istriku. Itu yang membuat dia tidak nyaman, suka pusing-pusing dan pegal-pegal. Setelah supply and demand asi stabil, semuanya akan kembali normal.

Betul dugaanku. Hari berikutnya istriku sudah bisa jalan-jalan ke Barkley Square dan belanja di mini market Indonesia membeli Indomie dan kecap Bango. Amartya juga tidak serewel hari-hari sebelumnya. Badai sudah berlalu. Tiga minggu yang menegangkan siap digantikan minggu-minggu yang menyenangkan. Tak lama lagi Amartya bisa melihat ibu bapaknya. Bayi bisa melihat usia 6 minggu. Sekarang dia hanya bisa melihat samar-samar dua warna: hitam dan putih. Dia juga bisa menangkap gerakan. Kalau aku lewat matanya akan mengikuti. Sebentar lagi dia akan melihat bapaknya yang ganteng dan ibunya yang cantik.